TRENDING
BeritaInternasionalNasionalPolitikEkonomiKesehatanTeknologiOlahragaHiburanOtomotifGaya HidupWisata
tapakberita.com › nasional

Aktivis Greenpeace Panjat Monumen Bundaran HI di Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Administrator Nasional, Politik
Senin, 26 Okt 2026 06:41 WIB
0
Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada pagi hari dengan lalu lintas kendaraan.
Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada pagi hari dengan lalu lintas kendaraan.

Jakarta - Enam aktivis Greenpeace memanjat Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Selasa (20/10/2026) pagi. Mereka membentangkan dua spanduk berisi protes atas dampak krisis iklim dan kenaikan biaya hidup, bertepatan dengan dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dua spanduk kuning berukuran besar itu terbentang vertikal di sisi utara dan selatan monumen. Tulisannya menanyakan kerja pemerintah di tengah bencana yang makin parah dan hidup yang makin sulit, serta menuntut penanganan krisis iklim dan penurunan biaya hidup.

Aparat Hentikan Aksi, Aktivis Ditahan Hampir 12 Jam

Para aktivis memanjat dengan perlengkapan panjat vertikal dan bergerak senyap hingga mencapai bagian atas penyangga patung. Awalnya lalu lintas berjalan normal dan polisi di pos Bundaran HI hanya memantau dari kejauhan. Perhatian pengguna jalan baru beralih setelah spanduk terbentang.

Polisi dan tentara kemudian berkoordinasi untuk menghentikan aksi. Sejumlah petugas menyeberangi kolam Bundaran HI dan mencoba memanjat dengan tali, tetapi tidak berhasil mencapai posisi aktivis. Sekitar pukul 10.00 WIB, aparat menurunkan kedua spanduk. Para aktivis tetap bertahan sambil membentangkan poster.

Sekitar pukul 12.00 WIB, para aktivis turun satu per satu dengan meluncur menggunakan tali. Polisi membawa mereka ke Polda Metro Jaya. Mereka ditahan hampir 12 jam dan dibebaskan sekitar pukul 23.00 WIB.

Greenpeace: Kualitas Hidup Warga Memburuk

Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, menilai pemerintah belum mengambil langkah efektif untuk menekan krisis iklim dan menjamin kesejahteraan warga. Menurut dia, krisis iklim juga menurunkan kualitas hidup, terutama bagi kelas pekerja, petani, dan nelayan.

Ia menyebut petani mengalami gagal panen akibat cuaca tidak menentu, sedangkan hasil tangkapan nelayan terus menurun. Kondisi itu, kata dia, mengurangi pasokan pangan dan mendorong kenaikan harga. Jeanny juga menyinggung banjir di Sumatera, kebakaran hutan dan lahan, kabut asap berkepanjangan, serta gelombang pemutusan hubungan kerja.

Greenpeace Indonesia merujuk pada riset terbarunya berjudul Besok Harga Naik! yang mengkaji masyarakat di tiga wilayah aglomerasi, yaitu Jabodetabekjur, Cekungan Bandung, dan Kartamantul. Dampak krisis iklim paling kuat terasa pada pola konsumsi dan biaya pangan (41%), disusul penurunan produktivitas dan pendapatan (39%), serta akses tempat tinggal dan transportasi (20%).

Ketua Tim Kampanye Sosial dan Ekonomi Greenpeace Indonesia, Atha Rasyadi, menilai temuan itu tidak sejalan dengan klaim Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD 2026 bahwa ekonomi tumbuh 5,45% pada semester pertama 2026. Menurut dia, angka tersebut belum dirasakan masyarakat luas.

Dalam riset itu, 57,34% responden memangkas pengeluaran non-esensial dan 56,79% mengambil pekerjaan sampingan atau membuka usaha baru. Sebanyak 38,78% menanam kebutuhan pokok di rumah, dan 17,73% memproduksi pangan secara mandiri.

Pakar IPB Soroti Nasib Petani Kecil dan Proyek Pangan

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Dwi Andreas Santosa, menyampaikan bahwa jumlah rumah tangga petani dengan lahan mikro (kurang dari 1.000 meter persegi atau 0,1 hektare) melonjak dari 4,3 juta pada periode 2003 sampai 2013 menjadi 7,4 juta.

Dalam diskusi publik dua tahun pemerintahan Prabowo, Kamis (15/10/2026), Dwi menilai proyek swasembada pangan dan food estate selalu gagal karena mengabaikan empat pilar kelayakan, yakni pangan dan agroklimat, infrastruktur, teknologi, serta sosial dan ekonomi. Ia menyebut lahan yang telah terbuka akhirnya terbengkalai atau berubah menjadi kebun sawit.

Ia juga memaparkan ketergantungan impor Indonesia. Bawang putih dan kedelai 100% bergantung pada impor, produk susu 83% sampai 97%, gula 82%, daging sapi atau kerbau 50%, dan jagung 10%. Konsumsi gandum menyumbang sekitar 28% pola pangan pokok, sementara konsumsi beras per kapita turun dari 90 kilogram menjadi sekitar 75 kilogram per tahun.

Dwi turut mengingatkan potensi Super El Nino yang sangat kuat hingga awal 2027, dengan kondisi mirip periode 1997 sampai 1998. Menurut dia, fenomena Indian Ocean Dipole dapat memperparah kekeringan di sentra produksi nasional. Ia memperkirakan harga beras berpotensi naik 30% sampai 45% jika pasokan global terganggu, dan mengimbau petani mengamankan cadangan gabah.

Sustain: Waktu Transisi Energi Makin Sempit

Direktur Eksekutif Sustain, Tata Mustasya, menilai kebijakan energi yang bertumpu pada sawit, hutan tanaman energi, dan tebu berisiko besar

0
TAGS
BERITA TERKAITSelengkapnya →
BERITA TAPAKBERITA.COM LAINNYA
0 Komentar
Tulis Komentar...
Kanal
BeritaInternasionalNasionalPolitikEkonomiKesehatanTeknologiOlahragaHiburanOtomotifGaya HidupWisataIndeks Berita