TRENDING
BeritaInternasionalNasionalPolitikEkonomiKesehatanTeknologiOlahragaHiburanOtomotifGaya HidupWisata
tapakberita.com › nasional

IDAI Jelaskan Alasan Anak Lebih Rentan terhadap Asap Karhutla Dibanding Orang Dewasa

Administrator Nasional, Kesehatan
Senin, 19 Okt 2026 20:22 WIB
0
Langit berkabut asap tipis di atas permukiman dan tepi hutan tropis pada pagi hari.
Langit berkabut asap tipis di atas permukiman dan tepi hutan tropis pada pagi hari.

Tapakberita.com. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa anak lebih rentan terdampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibanding orang dewasa. Penjelasan itu disampaikan Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Dr. Fifi Sofiah, SpA, Subsp Respi(K), di Jakarta, Senin (19/10/2026). Menurut dia, karakteristik tubuh anak membuat dosis paparan polutan yang mereka terima jauh lebih besar.

Karakteristik Tubuh Anak

Fifi menjelaskan, anak memiliki karakteristik anatomi dan fisiologi yang membuat mereka lebih rentan terhadap pencemaran udara. Diameter jalan napas anak lebih kecil, mereka bernapas lebih cepat, dan lebih sering bernapas lewat mulut. Anak juga cenderung lebih banyak beraktivitas di luar ruangan.

Akibatnya, ketika udara tercemar, dosis paparan yang diterima anak jauh lebih besar dibanding orang dewasa.

Kandungan Asap Karhutla

Fifi menegaskan bahwa asap karhutla bukan sekadar asap biasa. Asap ini merupakan campuran partikel, gas, dan cairan yang timbul dari pembakaran tidak sempurna. Kandungannya antara lain hidrogen sulfida, sulfur, karbon dioksida, polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH), asam, serta logam berat seperti timbal, kadmium, tembaga, dan zink.

Partikel yang Paling Berbahaya bagi Anak

Dari berbagai kandungan itu, partikel yang paling berbahaya bagi anak adalah PM2.5, yakni partikel berukuran kurang dari 2,5 mikron. Ukurannya jauh lebih kecil daripada sehelai rambut manusia, sehingga partikel ini dapat menembus saluran napas terdalam hingga alveoli dan bahkan masuk ke aliran darah.

Fifi membedakan dampaknya. PM10, atau partikel kasar, mengiritasi saluran napas atas, sedangkan PM2.5 menimbulkan gangguan di saluran napas bawah.

Zat lain dalam asap juga punya efek tersendiri. Aldehida dapat melumpuhkan silia di saluran napas. Karbon monoksida dan nitrogen oksida mengganggu fungsi hemoglobin, sedangkan ozon dan PAH mengganggu integritas sel. Dalam jangka panjang, paparan ini berpotensi menimbulkan penyakit paru kronik dan menurunkan kualitas hidup anak hingga dewasa.

Kelompok yang Perlu Perlindungan Lebih Besar

IDAI juga menyoroti sejumlah kelompok anak yang memerlukan perlindungan lebih besar, yaitu bayi, balita, anak dengan asma, anak dengan penyakit jantung atau paru kronik, anak dengan disabilitas, serta anak yang bergantung pada oksigen dan alat medis.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), menyatakan bahwa perlindungan anak harus mempertimbangkan hak mereka. Menurut dia, kelompok rentan tersebut memiliki risiko jauh lebih tinggi dan tidak dapat melindungi diri sendiri. Karena itu, orang dewasa dan negara bertugas memastikan perlindungan bagi mereka.

Imbauan IDAI untuk Keluarga

IDAI menyampaikan imbauan yang ditujukan kepada keluarga dan orang tua.

  • Keluarga diminta membatasi aktivitas anak di luar ruangan, menyediakan ruang dengan udara lebih bersih di dalam rumah, dan memantau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).
  • Orang tua diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul tanda kegawatan, yaitu sesak napas berat, tarikan dinding dada, bibir membiru, kesadaran menurun, atau anak tidak mampu minum.

Sumber: Suara.com

Editorial Tapakberita.com

0
TAGS
BERITA TERKAITSelengkapnya →
BERITA TAPAKBERITA.COM LAINNYA
0 Komentar
Tulis Komentar...
Kanal
BeritaInternasionalNasionalPolitikEkonomiKesehatanTeknologiOlahragaHiburanOtomotifGaya HidupWisataIndeks Berita